PROGRAM BUMDES DAN BANK SAMPAH, IKON PEKON PURWODADI SEBAGAI PERWAKILAN ADIPURA KABUPATEN TANGGAMUS

Tnipolrinews.com |
Lampung, Tanggamus – 30 November 2025 – Telah diadakan diskusi mengenai program yang menjadikan Pekon Purwodadi sebagai perwakilan penilaian Adipura Kabupaten Tanggamus. Dijelaskan oleh Heri (Direktur BUMDES) bahwa PKK berperan aktif sebagai pendukung dalam kegiatan ini. Sementara itu, Bank Sampah yang dikelola dan dikordinir Ahmad Humaidi yang sangat berpengalaman dalam penanganan limbah rumah tangga.
Hadir dalam acara yang diadakan di kantor BUMDES Pekon Purwodadi antara lain Wakil Bupati Tanggamus Agus Suranto, Kepala Pekon Purwodadi, serta perwakilan Dinas Pertanian dan Dinas Lingkungan Hidup. Kepala Pekon Mualpi menjelaskan bahwa penilaian Adipura dilakukan oleh instansi pusat, ahli kebersihan dan lingkungan, dengan kriteria utama: (1) kebersihan dan tata letak wilayah pemukiman (jalan, drainase, tempat tinggal); dan (2) kinerja Bank Sampah (kemampuan menampung sampah bernilai, proses penjualan efisien, dan manfaat bagi warga).
Dia menegaskan hubungan erat antara BUMDES dan Adipura – Purwodadi dipilih sebagai salah satu perwakilan resmi kabupaten. Meskipun pernah mengalami kemandegan akibat manajemen kurang optimal, setelah reorganisasi BUMDES kini berkembang dengan unit usaha Ketahanan Pangan seperti pertanian padi, peternakan ikan, dan sapi. Menurut Suropin (Koordinator Ketahanan Pangan), BUMDES mengelola 1 hektar lahan sawah, 3 balong ikan nila dan lele, serta 9 ekor sapi yang dititipkan ke warga dengan sistem bagi hasil. Untuk promosi, direncanakan membuat website dan akun media sosial untuk membagikan kegiatan BUMDES dan Bank Sampah.

Penilaian Adipura akan berlangsung 3-4 hari secara acak, dengan juri mengecek langsung perkantoran pekon, pasar, taman, permukiman, TPS, dan Bank Sampah. Purwodadi telah menunjukkan inovasi dalam pengelolaan sampah di level pekon kecil. Selama persiapan, warga SOKLI dan unit usaha BUMDES bekerja sama antusias untuk memastikan semua area bersih dan menyiapkan presentasi tentang pemilahan sampah hingga pemanfaatan hasil penjualan.
Heri menyatakan bahwa manfaat program tidak hanya predikat Adipura, tetapi juga menciptakan budaya kebersihan abadi dan meningkatkan pendapatan. Bukti keberhasilan terlihat dari SOKLI yang berhasil mengurangi sampah di TPS sebanyak 40% dalam setahun terakhir. Sebagian hasil penjualan juga digunakan untuk membeli benih padi dan pakan ternak, meningkatkan ketahanan pangan.
Untuk keberlanjutan, BUMDES berkolaborasi dengan instansi pemerintah: Dinas Pertanian memberikan bimbingan teknis, sedangkan Dinas Lingkungan Hidup memberikan peralatan penanganan sampah. Rencana juga menyertakan lokakarya rutin agar lebih banyak warga terlibat.

Selanjutnya, Mualpi menjelaskan kelompok SOKLI (Kelompok Peduli Sampah dan Lingkungan) yang fokus pada pemilahan ketat sampah basah dan kering dengan slogan “Pilah Sampah Jadi Berkah” – menekankan reduksi sampah dari sumber. Bank Sampah memiliki SOP sederhana dan model bisnis langsung: menjual sampah ke pengepul besar tanpa perantara, sehingga warga mendapatkan harga lebih tinggi.
Dengan hari penilaian semakin dekat, semangat warga semakin tinggi. Mereka memasang stiker, spanduk, dan memastikan Bank Sampah rapi. Semua upaya ini bukan hanya untuk meraih Adipura, tetapi juga membuktikan bahwa pekon kecil seperti Purwodadi mampu menjadi contoh pengelolaan lingkungan yang baik dan pembangunan perekonomian lokal yang berkelanjutan. (N. Heriyadi)