Juli 14, 2026

RUSLI HIPPY SAMPAIKAN “SO TIDAK BAKU LIA, SAMPE HATI” TENTANG PEMBONGKARAN RUMAH TINGGI JEJAK PATRIOTIK 23 JANUARI 1942

0

TNIPOLRINEWS.COM –

GORONTALO, 13 Juli 2026 Tokoh masyarakat Gorontalo Rusli Hippy menyampaikan kekecewaan mendalam dan keprihatinan yang membekas di sanubari terkait rencana serta proses pembongkaran Rumah Tinggi saksi hidup peristiwa patriotik bersejarah 23 Januari 1942. Dengan nada suara yang bergetar, beliau menyampaikan ungkapan khas kedaerahan yang lugas namun menyayat: “So tidak baku lia… sampe hati.”

Kalimat itu menyiratkan perasaan bahwa perlakuan terhadap bangunan bersejarah ini sama sekali tidak pantas, tidak sejalan dengan rasa keadilan, penghormatan, maupun kearifan yang kita junjung tinggi dan peristiwa ini benar‑benar menembus hingga ke dasar hati, ” ucapnya.

Kepada awak media pihaknya mengingatkan, Rumah Tinggi bukan sekadar tumpukan kayu dan tembok tua. Di sanalah pada 23 Januari 1942, semangat kemerdekaan pertama kali dikobarkan di wilayah ini, menjadikannya bukti nyata keberanian dan cinta tanah air putra‑putri Gorontalo di tengah masa sulit. Bahkan penguasa kolonial dahulu pun tidak berani merusak atau membongkarnya karena menghormati keberadaan dan makna tempat tersebut, ” tagasnya.

“Penjajah dulu saja masih tahu tempat dan segan menyentuhnya. Sekarang ini justru kita sendiri yang berani memusnahkan jejak yang menjadi kebanggaan bersama. Ini bukan sekadar soal tanah atau bangunan, tapi soal ingatan identitas kita,” tegasnya. Beliau menekankan rasa sakit hati itu muncul karena melihat seolah pengorbanan leluhur dilupakan begitu saja, dan warisan yang seharusnya dijaga cermat justru dihampiri tanpa kehati‑hatian yang layak.

Beliau berharap pernyataan ini menjadi cermin bagi seluruh pihak: pemerintah, pemangku kebijakan, maupun masyarakat luas, agar berhenti sejenak, memeriksa ulang status perlindungan cagar budaya, dan menyelesaikan persoalan ini dengan cara yang menghormati sejarah, hukum, serta perasaan seluruh anak Gorontalo.

“Jangan sampai generasi mendatang hanya bertanya: di mana dulu tempat kakek‑nenek kita berani berjuang? Dan kita hanya bisa menjawab: sudah kita bongkar sendiri, dengan haru, ” pungkasnya.

( MR 02 )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *