Juli 16, 2026

Gandeng Forkomkel dan Praktisi, MPLS 2026 SMK PGRI 5 Surabaya Perkuat Karakter Siswa di Era Digital

0

TNIPOLRINEWS.COM –

Surabaya – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 di Kota Surabaya resmi dimulai. Selain menjadi sarana adaptasi bagi peserta didik baru, kegiatan tahun ini diarahkan untuk memperkuat kesadaran siswa terhadap tantangan era digital, mulai dari penyalahgunaan narkotika hingga ancaman kejahatan siber.

​Pada Senin (13/7/2026), SMK PGRI 5 Surabaya memulai hari pertama rangkaian “MPLS Ramah 2026”. Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung selama lima hari ini digelar di gedung sekolah yang bertempat di Jalan Karangrejo IV No. 16, Wonokromo, Surabaya. Mengusung tema “Perilaku Sosial Remaja dan Dampaknya”, pihak sekolah menyelenggarakan program sinergi bertajuk Parents Gathering dengan melibatkan berbagai praktisi dan Forum Komunikasi Kelurahan (Forkomkel) Wonokromo.

​Hadir sebagai narasumber eksternal antara lain Lurah Wonokromo, Kasi Trantibmas, staf kelurahan, Babinsa, serta pilar kelurahan seperti Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA), Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM), dan Yayasan Rehabilitasi Narkoba Omah Sehat Bersinar (OSB). Sementara dari pihak internal, acara dihadiri langsung oleh Kepala Sekolah, jajaran staf pengajar, serta pengurus OSIS SMK PGRI 5 Surabaya.

​Kepala Sekolah SMK PGRI 5 Surabaya, Tria Hasbi Akbar Ilmas, S.I.Kom., menjelaskan bahwa penyelenggaraan MPLS tahun ini sengaja dikemas berbeda. Pihak sekolah mengedepankan aspek kebersamaan untuk menyatukan pemahaman antara anak, orang tua, dan guru terhadap perkembangan sosial di era digital.

“Siswa perlu memiliki kemampuan mengenali berbagai ancaman yang muncul seiring derasnya arus informasi. Di sisi lain, seluruh kegiatan dipastikan berlangsung ramah anak dan bebas dari praktik perpeloncoan yang selama ini menjadi sorotan publik,” ujar Hasbi.

​Hasbi menegaskan bahwa MPLS bukan lagi ruang yang identik dengan kegiatan yang memberatkan siswa. Sebaliknya, program ini dirancang untuk membantu peserta didik mengenal lingkungan sekolah secara positif sejak hari pertama.

“MPLS harus menjadi ruang belajar yang menyenangkan, bukan seperti praktik perpeloncoan di masa lalu. Tidak ada lagi kegiatan yang membebani siswa. Kami ingin anak-anak mengenal sekolah sebagai rumah kedua yang harus mereka pahami dan cintai,” tegasnya.

​Selama satu pekan, siswa baru akan diperkenalkan dengan budaya sekolah, sistem pembelajaran, tenaga pendidik, program unggulan, serta berbagai fasilitas penunjang. Pengenalan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekolah. Senada dengan kepala sekolah, Lurah Wonokromo, Prima Sri Poerwiendari, S.E., menyatakan dukungan penuh terhadap kegiatan MPLS ini sebagai bagian dari program pendidikan nasional yang terpadu.

​”Saat ini, anak-anak sedang terbawa oleh derasnya arus digital yang bisa menyeret mereka ke dalam jurang kehidupan yang negatif. Untuk itu, perlu diberikan pemahaman yang mendalam sebagai bentuk antisipasi sejak dini,” tutur Prima.

​Sementara itu, Kasi Trantib Kelurahan Wonokromo, Kunto Wibowo, S.E., mengingatkan dampak masif teknologi yang menyasar lintas generasi. Ia mengimbau para siswa untuk bijak membatasi waktu penggunaan gawai demi kesehatan fisik dan mental.

​”Manfaatkan HP sesuai kapasitas sebagai siswa dengan menerapkan ilmu teknologi yang positif, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat umum,” kata Kunto.

​Dari sisi keamanan wilayah, Babinsa Wonokromo Serda Didik Achmadi menekankan pentingnya disiplin diri. Ia juga mengingatkan bahwa Kota Surabaya masih memberlakukan aturan jam malam untuk menjaga keselamatan remaja dari ancaman kriminalitas jalanan.

​Materi inti mengenai bahaya narkotika dipaparkan secara gamblang oleh Arief Windarto dari Yayasan Rehabilitasi Narkoba Omah Sehat Bersinar (OSB). Arief memberikan sosialisasi mengenai pencegahan pencegahan dini, mulai dari pengertian Napza, jenis-jenis narkoba, faktor pemicu, hingga deteksi kecanduan.

“Dengan sosialisasi ini, diharapkan siswa-siswi SMK PGRI 5 Surabaya tidak terjerumus atau tergoda narkoba. Jadilah generasi berprestasi tanpa narkoba,” harap Arief.

​Menutup sesi pemaparan, Syaiful Bahri dari Komnas Perlindungan Anak (PA) menyoroti pentingnya peran keluarga dalam pembentukan karakter. Menurutnya, komunikasi yang intens antara orang tua dan anak menjadi kunci utama dalam memantau perubahan perilaku negatif, seperti kecenderungan menyendiri atau perubahan sikap yang drastis.

​”Apabila ditemukan gejala tidak biasa pada anak, koordinasi antara pihak sekolah dan keluarga harus segera dilakukan agar bisa dimitigasi sejak dini,” jelas Syaiful.

​Rangkaian pembukaan MPLS ini ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta dan narasumber. Semangat membara tampak saat para siswa baru meneriakkan yel-yel khas sekolah penutup acara: “SMK PGRI 5… Bisa, Siap, Kerja!

​(Triwono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *