Ning Cahya Ketua Pelita Prabu Sidoarjo Bicara MBG Jelang Running Dua SPPG Baru

—–
Sidoarjo, TNIPOLRINEWS.com |
Wartawan media ini berkesempatan bertemu dengan Ketua DPC Pelita Prabu Kabupaten Sidoarjo yang akrab disapa Ning Cahya. Pada momen ini
jelang akan beroperasinya dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) baru yang berada di Kecamatan Prambon dan Balong Bendo Kabupaten Sidoarjo. Kedua dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) ini kebetulan sedari awal dikawal oleh organ Relawan Prabowo Gibran yang jamak dikenal dengan Pelita Prabu.
Nampak kesibukan Ning Cahya beserta timnya. Mereka mondar mandir berkunjung ke lokasi kedua dapur tersebut. Dijadwalkan kedua dapur MBG ini akan beroperasi di hari Senin 12 Januari 2026.
SPPG Garuda Muda adalah inisial dari nama dapur MBG yang berlokasi di Bendotretek Kecamatan Prambon. Untuk SPPG yang berlokasi di Balong Bendo dinamai dapur Kebun Coklat. Keduanya sudah berproses kurang lebih tiga bulan, mulai dari pendaftaran titik lokasi, perencanaan, pembangunan, perekrutan pekerja dan persiapan.
Menarik untuk berdiskusi dengan Ning Cahya yang akrab dengan cadarnya ini. Ia dikenal sebagai perempuan nasionalis dan sudah lebih dari satu tahun belajar tentang MBG. Baginya MBG memiliki efek domino ekonomi yang sangat krusial.
“Jika dikelola dengan tepat, anggaran tersebut memang tidak hilang. Ada proses perputaran dalam dinamika ekonomi masyarakat,”
Perempuan yang tinggal di Sukodono ini mengatakan bahwa program MBG tidak buang-buang duit.
“Ada efisiensi dan manfaat program ini, pertama, terjadi perputaran ekonomi lokal (Local Loop).
Dengan alokasi 10.000 rupiah untuk bahan baku, uang tersebut langsung masuk ke kantong petani beras dan sayuran segar, anggaran masuk ke peternak mulai dari telur, daging ayam, dan susu dan terakhir dana akan masuk ke nelayan penghasil tangkapan ikan yang penuh protein,” tambah perempuan alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.
Ning Cahya kembali menambahkan bahwa MBG menciptakan permintaan pasar yang stabil bagi produsen lokal. Sehingga mereka punya kepastian penghasilan.
“Sebagai poin kedua, bahwa MBG menyerap Tenaga Kerja dan UMKM. Alokasi Rp 3.000 untuk operasional dan Rp 2.000 untuk sewa secara langsung memberdayakan UMKM atau unit pelayanan di tingkat desa/kecamatan,” ujar perempuan anak kyai ini.
Bagi Ning Cahya ada fakta jelas jika MBG membuka lapangan kerja bagi ibu-ibu atau warga setempat sebagai juru masak, pemilahan pengolahan bahan baku, pemorsian, tenaga distribusi dan sebagainya. Termasuk menghidupkan aset-aset lokal yang selama ini kurang produktif bahkan menganggur.

“Sebagai yang ketiga bahwa investasi jangka panjang (Human Capital)
Secara ekonomi makro, uang yang dikeluarkan untuk gizi anak bukanlah biaya konsumsi, melainkan investasi, ”
Lebih serius Ning Cahya menjelaskan bahwa MBG akan mencegah stunting, bahwa anak yang bebas stunting memiliki IQ lebih tinggi dan produktivitas lebih baik saat dewasa.
Ia juga mengkaji mengenai efisiensi kesehatan, bahwa kedepan akan mengurangi beban negara untuk biaya pengobatan penyakit akibat kurang gizi.
Mengenai ini tantangan yang harus dikawal agar idealisme tidak buang-buang duit ini tetap terjaga, ada beberapa hal yang memang harus diawasi ketat oleh masyarakat yaitu
rantai pasok.
“Jangan sampai bahan baku justru diambil dari importir besar, melainkan harus benar-benar dari petani/peternak lokal. Sebab hal ini dapat menimbulkan
kebocoran anggaran. Seperti yang kita tahu bersama bahwa musuh utama MBG adalah korupsi. Sistem pengawasan digital dan transparansi di tiap satuan pelayanan menjadi kunci agar Rp15.000 itu benar-benar sampai ke piring anak, ” papar perempuan penggiat MBG di Jatim ini.
Ning Cahya kembali menjelaskan bahwa tugas SPPG menjaga kualitas gizi adalah penting. Ia menghimbau untuk memastikan komposisi makanan tetap terjaga standar gizinya meski harga pangan di pasar berfluktuasi.
“Intinya selama dana tersebut berputar di masyarakat bawah dan masuk ke perut anak-anak sebagai nutrisi, itu adalah pemanfaatan APBN yang sangat produktif untuk masa depan,” tutupnya.***
Jurnalis: Rio Adhit |