Juni 30, 2026

FPRB Lamsel Gelar Workshop, Siapkan 4 Strategi Utama Tangkal Bencana Hidrometeorologi 2026

0

Kalianda, tnipolrinews.com

Ancaman bencana hidrometeorologi seperti kekeringan, banjir, hingga kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menjadi fokus Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Lampung Selatan.

FPRB menggelar Workshop bertema _“Antisipasi Ancaman Bencana Hidrometeorologi”_ dengan tagline _“Kenali Ancaman, Kurangi Risiko, Selamatkan Semua”_ di Aula Rajabasa Pemkab Lamsel, Selasa 30 Juni 2026.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber kunci, di antaranya perwakilan BPBD Lamsel Maturidi, Ketua Stasiun Klimatologi BMKG Lampung Suparji, S.T., M.T.I, dan Ketua Destana Nanang.

Empat Strategi Mitigasi Struktural Jadi Andalan

Dalam paparannya, FPRB Lamsel menekankan empat strategi mitigasi struktural yang akan dijalankan Pemkab untuk menghadapi musim kemarau dan potensi Karhutla 2026:

1. *Revitalisasi Embung dan Sumur Bor*: Memastikan sumber air baku masyarakat tetap tersedia saat puncak kemarau. Pengecekan sumur bor warga juga akan dilakukan serentak.
2. *Mobil Tangki dan Tandon Darurat*: Menyiapkan mobil tangki air dan penempatan tandon darurat di titik-titik rawan kekeringan yang sulit dijangkau.
3. *Pembuatan Sekat Bakar*: Membangun sekat bakar di perbatasan hutan lindung untuk memutus rantai api agar tidak meluas ke pemukiman saat terjadi Karhutla.
4. *Satgas Pemadam Portabel*: Menyiagakan satuan tugas yang dilengkapi alat pemadam portabel untuk respons cepat dalam 1×24 jam jika ditemukan titik api.

Kolaborasi BMKG-BPBD-Destana Kunci Utama

Maturidi dari BPBD Lamsel menegaskan bahwa kunci penanganan bencana hidrometeorologi adalah kolaborasi. “Data dari BMKG soal prediksi cuaca ekstrem harus cepat sampai ke Destana dan masyarakat desa. Jangan sampai telat,” ujarnya

Ketua Stasiun Klimatologi BMKG Lampung Suparji, S.T., M.T.I menyatakan BMKG siap mendukung penuh. “Kami akan suplai data iklim harian dan peringatan dini. Puncak kemarau 2026 ini harus kita waspadai bersama. Informasi harus tembus sampai ke petani,” tegas Suparji.

Senada, Ketua Destana Nanang memastikan seluruh relawan desa sudah siaga. “Prinsipnya sesuai tagline workshop: Kenali ancaman di desa masing-masing, kurangi risikonya dari sekarang, tujuannya selamatkan semua warga,” kata Nanang.

Workshop ini menjadi langkah awal Pemkab Lamsel menyatukan seluruh unsur, mulai dari pemerintah, BMKG, hingga relawan desa dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi 2026.

Beddi Rizal
Tnipolrinews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *