Darurat Kekeringan Pemalang: 7 Kecamatan dan 30 Desa Terdampak, 93.357 Jiwa

TNIPOLRINEWS.COM –
Pemalang – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pemalang membentuk posko darurat hidrometeorologi kekeringan hingga tingkat kecamatan sebagai langkah mengantisipasi musim kemarau 2026. Sejak penyaluran air bersih dimulai pada 24 Juli 2026, sebanyak 2.058.000 liter air bersih telah didistribusikan ke wilayah terdampak kekeringan.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Pemalang, Agus Ikmaludin, menyampaikan Kabupaten Pemalang diperkirakan mengalami musim kemarau panjang selama 79–80 hari berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Provinsi Jawa Tengah.
Agus mengatakan langkah yang diambil adalah mendirikan posko darurat kekeringan di depan kantor BPPD Kabupaten Pemalang, serta membentuk posko serupa di setiap kecamatan yang bertugas untuk mengumpulkan dan menginput data kebutuhan air pada tingkat kecamatan, desa, dan dukuh.
“Dari data itu, kemudian kami olah di BPBD Kabupaten Pemalang, untuk seterusnya kami lakukan droping air,” jelas Agus saat ditemui di ruang kerjanya, pada Senin 27 Juni 2026 .
Menurutnya , hingga 26 Juli 2026 total air bersih yang telah disalurkan mencapai 2.058.000 liter. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.101.000 liter berasal dari BPBD Kabupaten Pemalang, 525.000 liter dari Palang Merah Indonesia (PMI), sedangkan sisanya merupakan bantuan dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Perumda Air Minum Tirta Mulia Kabupaten Pemalang.
“Intinya adalah bagaimana kita terus berusaha untuk mencukupi kebutuhan air bersih di masing-masing daerah terdampak,” Tandas Agus Ikmaludin.
BPBD memperkirakan status darurat kekeringan berlangsung mulai 1 Juli hingga Oktober 2026 dengan durasi sekitar 79–80 hari.

Saat ini, kata Agus, BPBD memfokuskan penanganan pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat berupa air bersih. Sementara untuk kebutuhan sektor pertanian akan dilakukan secara kolaboratif bersama Dinas Pertanian Kabupaten Pemalang.
“Di wilayah Pantura masih memungkinkan dilakukan penggalian sumur. Namun untuk daerah pegunungan seperti Pulosari dan Watukumpul kemungkinan akan dilakukan penggalian sumur untuk memenuhi kebutuhan air,” ujarnya.
Berdasarkan data BPBD, kekeringan telah berdampak pada tujuh kecamatan yang mencakup 30 desa dengan jumlah penduduk terdampak mencapai 93.357 jiwa.
Wilayah yang paling terdampak saat ini berada di Kecamatan Belik dan Kecamatan Pulosari. Di Kecamatan Belik, desa yang mengalami kekeringan antara lain Desa Belik dan Desa Gombong, sedangkan di Kecamatan Pulosari terdapat 10 desa terdampak.
Permintaan bantuan air bersih juga mulai datang dari Desa Wanarata di Kecamatan Bantarbolang, Desa Cawet di Kecamatan Watukumpul, serta sejumlah wilayah di Kecamatan Warungpring.
Agus menjelaskan setiap permintaan bantuan air bersih akan diverifikasi terlebih dahulu oleh BPBD sebelum dijadwalkan untuk pengiriman.
“Kita verifikasi dulu tentunya ya. Kita verifikasi dulu selama itu betul-betul butuh, nanti kita jadwalkan sesuai dengan apa, nanti ada penjadwalan alurnya, harinya dan sebagainya,” terangnya.
BPBD juga mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara bijak selama musim kemarau serta mengajak masyarakat yang memiliki kecukupan air untuk peduli terhadap warga di daerah pegunungan yang masih mengalami kesulitan memperoleh air bersih.
“Dalam kondisi kering ini kami mengimbau kepada masyarakat untuk bijak menggunakan air. Karena air adalah merupakan sumber penghidupan,” Tandasnya.
“Kemudian juga kami mengajak kepada masyarakat di Kabupaten Pemalang untuk peduli kepada masyarakat di daerah punggung yang pada saat ini masih sangat membutuhkan air bersih,” tambahnya.
Jurnalis : Suhari Putra Senja
