Agustus 18, 2026

Dua Pekan Menanti, 19 Agustus Penentu: Jika Way Ratai Negatif, Ikan Mati Berulang Karena Apa?

0

PESAWARAN, TNIPOLRINEWS.com |

18 Agustus 2026 — Penantian warga Padang Cermin terhadap hasil uji laboratorium Sungai Way Ratai memasuki penghujung waktu. Setelah hampir dua pekan sejak pengambilan sampel, masyarakat tinggal menunggu hasil yang dijadwalkan diketahui pada 19 Agustus 2026.

Hasil uji tersebut diharapkan mampu menjawab keresahan warga terkait dugaan pencemaran Sungai Way Ratai yang selama ini dikaitkan dengan aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Pertanyaan utamanya, apakah air sungai terindikasi tercemar atau masih memenuhi baku mutu?

Selain hasil laboratorium, muncul pula pertanyaan mengenai dugaan puluhan ton sianida yang disebut beredar di kawasan Way Ratai. Jika dugaan tersebut benar, masyarakat mempertanyakan dari mana bahan tersebut diperoleh, siapa pemasoknya, siapa penggunanya, serta bagaimana limbahnya dikelola.

Namun, dugaan tersebut harus dibuktikan melalui data, dokumen, temuan lapangan, maupun penyelidikan resmi. Tidak boleh ada pihak yang dituding sebagai pengedar tanpa bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Salah satu warga Padang Cermin, Nasoba, yang juga Ketua Gabungan Wartawan Indonesia Dewan Pimpinan Cabang (GWI-DPC) Kabupaten Pesawaran, mengatakan masyarakat hanya menginginkan kepastian berdasarkan fakta.

“Kalau hasilnya positif, tentu harus ditelusuri sumber pencemarannya. Tetapi kalau negatif, pertanyaan masyarakat juga harus dijawab: kalau bukan limbah PETI, lalu apa penyebab ikan mati berulang kali?” ujar Nasoba.

Keresahan tersebut muncul karena ikan di Sungai Way Ratai disebut berulang kali ditemukan mati dari tahun ke tahun. Dalam kejadian terbaru, muncul dugaan sementara bahwa kematian ikan berkaitan dengan limbah aktivitas PETI yang diduga dibuang di bagian hulu sungai.

Meski demikian, Nasoba menegaskan dugaan tersebut harus dibuktikan secara ilmiah. Jika bukan akibat limbah PETI, masyarakat perlu mendapatkan penjelasan mengenai kemungkinan penyebab lainnya, seperti perubahan kualitas air, kadar oksigen, pH, sedimentasi, zat kimia tertentu, penyakit ikan, atau faktor lingkungan lainnya.

Jika hasil uji laboratorium pada 19 Agustus menunjukkan adanya parameter yang melebihi baku mutu, masyarakat tentu menunggu penelusuran sumber pencemaran dan langkah penanganannya. Sebaliknya, jika hasilnya negatif, penyebab ikan mati berulang juga harus diteliti.

Pemeriksaan, menurut Nasoba, tidak semestinya hanya berhenti pada sampel air. Bila diperlukan, pemeriksaan dapat diperluas pada sedimen, lokasi pengolahan emas, saluran pembuangan, kondisi hulu dan hilir, serta faktor lingkungan lainnya.

Masyarakat juga berharap hasil laboratorium disampaikan secara transparan, termasuk parameter yang diuji, hasil pengukuran, metode pemeriksaan, dan baku mutu yang digunakan. Dengan demikian, publik dapat memahami hasil tersebut berdasarkan data, bukan spekulasi.

Kini tinggal satu hari menuju 19 Agustus 2026. Warga Padang Cermin menunggu bukan sekadar jawaban positif atau negatif, tetapi kepastian mengenai kondisi Sungai Way Ratai dan penyebab ikan berulang kali mati.

Jika tercemar, ungkap sumbernya. Jika tidak tercemar, jelaskan penyebabnya. Dan jika benar ada dugaan peredaran sianida serta merkuri, telusuri mata rantainya berdasarkan bukti.

(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *