September 9, 2026

337 Kasus ISPA Terdeteksi, Dinkes Lamsel Siagakan 750 Ribu Masker Hadapi Dampak Erupsi Anak Krakatau

0

Lamsel, TNIPOLRINEWS.COM –

Dampak abu vulkanik akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat di wilayah pesisir Kabupaten Lampung Selatan.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lampung Selatan mencatat 337 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dalam dua hari terakhir. Selain ISPA, terdapat pula keluhan gangguan mata sebanyak 20 kasus dan iritasi kulit sebanyak 16 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Lampung Selatan, Devi Arminanto,S.K.M., M.M. mengatakan angka tersebut menunjukkan adanya peningkatan kasus dibandingkan kondisi normal.

“Biasanya per hari itu hanya sekitar 25 kasus ISPA. Sekarang meningkat menjadi 337 kasus. Kemudian penyakit mata ada 20 kasus dan iritasi kulit ada 16 kasus,” Ujar Devi Arminanto saat diwawancarai awak media, saat menghadiri peninjauan persiapan penanganan bencana erupsi Gunung Anak Krakatau bersama Bupati Lampung Selatan Egi di Kantor BPBD Lampung Selatan, Senin (7/9/2026).

Menurut Devi, keluhan kesehatan tersebut paling banyak ditemukan di wilayah yang terdampak abu vulkanik, terutama kawasan pesisir Kecamatan Rajabasa.

Meski terjadi peningkatan kasus, Dinkes memastikan kondisi masyarakat yang mendapatkan pelayanan kesehatan sejauh ini masih relatif terkendali.

“Alhamdulillah masih sifatnya ringan. Sampai sekarang tidak ada satu pun yang dirujuk ke rumah sakit. Artinya secara keseluruhan masih kondusif, aman dan terkendali,” jelasnya

Mengantisipasi kemungkinan meningkatnya jumlah warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan, Dinkes Lampung Selatan telah menyiapkan posko kesehatan utama di Desa Canti.

Lokasi tersebut dipilih karena berada di kawasan pesisir dan dinilai strategis untuk memberikan penanganan awal bagi masyarakat yang terdampak abu vulkanik.

Devi Arminanto,
mengatakan posko tersebut juga dipersiapkan untuk mengantisipasi apabila warga dari Pulau Sebesi dalam jumlah besar membutuhkan pelayanan kesehatan.

“Kalau warga dari Pulau Sebesi banyak yang mengalami keluhan penyakit, mereka akan langsung kita arahkan ke Posko Canti untuk mendapatkan penanganan,” katanya.

Sementara itu, untuk tingkat kabupaten, posko koordinasi juga telah disiapkan di Kantor BPBD Lampung Selatan guna memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menghadapi potensi dampak erupsi.

Tak ingin kecolongan menghadapi potensi peningkatan dampak abu vulkanik, Dinkes Lampung Selatan juga memperkuat ketersediaan alat pelindung pernapasan bagi masyarakat.

Devi mengungkapkan, selama dua hari terakhir sekitar 127.000 masker telah didistribusikan kepada masyarakat terdampak.

“Kita masih memiliki stok ke depan sekitar 750 ribu masker. Insyaallah masyarakat Lampung Selatan yang terdampak masih bisa kita layani,” ungkapnya.

Dinkes juga terus berupaya menambah persediaan masker, termasuk mengajukan permintaan kepada Kementerian Kesehatan untuk mendukung kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.

Dwi mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap sepele paparan abu vulkanik, terutama terhadap sistem pernapasan.

Menurutnya, partikel abu yang terhirup dapat masuk ke saluran pernapasan dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.

Karena itu, masyarakat diminta melakukan sejumlah langkah pencegahan, terutama ketika berada di luar rumah.

“Pertama, gunakan masker apabila berada di luar. Kedua, kurangi aktivitas di luar lapangan. Ketiga, makanan dan minuman harus dijaga, terutama sumur harus ditutup agar tidak tercemar debu vulkanik,” tegasnya.

Selain masker, Dinkes memastikan ketersediaan obat-obatan untuk menangani keluhan masyarakat masih dalam kondisi aman.

Namun, sebagai langkah antisipasi, Dinkes Lampung Selatan telah diminta Dinas Kesehatan Provinsi Lampung untuk mengusulkan penambahan stok obat, khususnya yang berkaitan dengan penanganan ISPA, gangguan mata serta alergi atau iritasi kulit.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan apabila terjadi peningkatan jumlah warga yang mengalami keluhan akibat paparan abu vulkanik.

Penanganan dampak erupsi juga dilakukan secara lintas sektor.

Dinkes Lampung Selatan berkolaborasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) untuk melakukan pembersihan debu vulkanik di sejumlah fasilitas dan ruang publik.

Pembersihan dilakukan secara rutin di lokasi pelayanan masyarakat, seperti rumah sakit, perkantoran hingga jalan raya.

Khusus di jalan raya, pembersihan dilakukan untuk mengurangi timbunan debu yang berpotensi kembali beterbangan akibat aktivitas kendaraan.

Devi Arminanto,, menyampaikan hal tersebut saat menghadiri peninjauan persiapan penanganan bencana erupsi Gunung Anak Krakatau bersama Bupati Lampung Selatan Egi di Kantor BPBD Lampung Selatan.

Dengan meningkatnya keluhan kesehatan, kesiapan posko, ketersediaan masker dan obat-obatan menjadi bagian penting dari upaya Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan menjaga masyarakat, khususnya warga yang tinggal di kawasan pesisir, dari dampak erupsi Gunung Anak Krakatau

BR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *