Kepala SDN 05 Beji Menandaskan Guru Butuh Ruang Kreasi untuk Bentuk Karakter Siswa

TNIPOLRINEWS.COM | Pemalang –
Kepala SD Negeri 05 Beji Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang, Wal Faizin, menilai penguatan karakter siswa sebagai satu diantara upaya dalam mencegah perundungan(bullying) dilingkungan sekolah. Menurutnya, pendidikan tak hanya berkutat pada kemampuan akademik saja, tetapi juga pembentukan sikap, prilaku, sopan santun serta kemampuan siswa dalam menghargai orang lain.
Wal Faizin mengatakan, perhatian terhadap persoalan buliying sebenarnya telah ia lakukan sejak lama, bahkan ketika dirinya masih berstatus sebagai guru. Ia mengaku telah menemukan praktik perundungan dilingkungan pendidikan sejak dahulu, dan berupaya mengedukasi siswa berkenaan dampak perilaku tersebut.
” Itu memang salah satu hal yang saya getolkan, saya getol terhadap itu ( buliying) , karena perlakuan seperti itu kan sudah ada sejak lama, sewaktu aku jadi guru” Tandas Wal Faizin saat ditemui diruang kerjanya, Kamis (22-10-2026).
Kepsek SDN 05 Beji Wal Faizin menuturkan , ketika bertugas sebagai guru di SDN 01 Pedurungan dirinya juga aktif menggelorakan gerakan anti perundungan kepada siswa. Bahkan ia membuat sebuah senam, yang ia namai ” Senam Buliying” agar pesan mengenai pencegahan perundungan lebih mudah diterima dan diingat oleh anak-anak.
” Ketika saya jadi guru di SDN 01 Pedurungan, saya juga sudah menggelorakan. Bahkan saya tuangkan dengan buat senam Buliying, dan anak-anak anak sampai hafal” Ungkapnya.
Perhatian terhadap pembentukan karakter juga disampaikan Wal Faizin dalam upacara peringatan Hari Santri tahun ini. Dalam upacara tersebut, ia tidak hanya menjelaskan mengenai makna Santri, tetapi juga mengingatkan siswa agar tidak melakukan perundungan.
” Nah disini tadi ketika upacara, ya, saya tekankan itu tadi. Satu tentang hari Santri, pengertian santri itu apa. Sehingga anak- anak tahu, santri itu sebutan seseorang yang tengah menimba ilmu di sebuah lembaga, biasanya pondok pesantren, atau orang yang mondok atau tidak mondok, pulang pergi”, terangnya.

Disisi lain , ia juga menyoroti pentingnya pendidikan karakter yang menurutnya dahulu adalah menjadi bagian dalam proses pendidikan calon guru. Wal Faizin sendiri merupakan Lulusan Sekolah Pendidikan Guru ( SPG) tahun 1987.
Menurutnya, pendidikan yang ia terima selama menempuh SPG tidak hanya berorientasi pada kemampuan mengajar saja, tetapi juga menanamkan nilai kesopanan, penghormatan kepada guru dan sikap menghargai pada sesama.
” Sehingga SPG itu memang betul- betul penanaman karakter. Seorang siswanya bagaimana dia menjadi siswa yang baik, bagaimana dia menjadi calon guru yang baik, nantinya, itu ditanamkan betul “, ujarnya.
Meski demikian dianya menegaskan pandangannya tersebut bukan berarti menganggap guru saat ini memiliki kualitas yang lebih rendah. Ia mengatakan, penilainya lebih ditujukan pada perbedaan pola pendidikan dan penanaman karakter yang ia rasakan antara masa ketika dirinya menempuh SPG dengan kondisi saat itu.
” Saya dulu itu ditanamkan bagaimana cara mendidik anak supaya punya sopan santun, menghargai guru dan karakter menghargai teman dan lain sebagainya” Jelasnya.
Tak ketinggalan Wal Faizin juga singgung tentang aspek pengelolaan siswa juga menjadi bagian yang tak kalah penting. Guru lanjut dia, perlu memiliki kemampuan dalam mengelola anak dan pendidikan sehingga siswa memiliki bekal pengetahuan sekaligus kemampuan bernalar.
“Tapi ya, itu tadi, menurut saya kurang sedikit bagaimana me-manage anak, bagaimana me-manage pendidikan biar mereka punya bekal, punya nalar,” katanya.
Namun, Wal Faizin menyadari guru saat ini juga menghadapi sejumlah persoalan dalam menjalankan tugasnya. Salah satunya adalah munculnya berbagai pertimbangan terkait hak anak dan HAM yang menurutnya terkadang membuat guru menjadi lebih berhati-hati dalam memberikan tindakan pendidikan.
“Makanya saya juga kadang-kadang dilematis, ya. Kalau pendidikan dicampuri hal-hal itu kan, guru itu nggak seratus persen bisa terlibat mengelola dunia pendidikan dengan seenaknya, istilahnya seenjoynya,” bebernya.
Oleh karena itu, Wal Faizin berharap guru tetap diberikan ruang untuk berkreasi dalam mendidik siswa. Menurutnya, kebebasan tersebut diperlukan agar guru dapat menjalankan perannya secara maksimal dalam membentuk karakter anak.
“Yang penting menurut saya sih, biarkanlah guru berkreasi,” tegasnya.
Sementara itu, Wal Faizin menilai persoalan tersebut juga dapat membuat sebagian guru memilih bersikap lebih pasif. Ia menyebut kondisi itu berpotensi membuat guru menjadi cuek dalam menghadapi perilaku siswa.
“Sekarang karena munculnya itu, mungkin banyak pribadi-pribadi guru yang akhirnya cuek,” tukasnya.***
Jurnalis : Suhari Putra Senja
