Lestarikan Olahraga Tradisional, DWP Inspektorat Jatim dan PORTINA Surabaya Gelar Lomba untuk Pelajar SD

Surabaya, Tnipolrinews.com
–
Semangat melestarikan budaya lokal sekaligus mendorong anak-anak menjauhi ketergantungan pada gawai diwujudkan melalui lomba olahraga tradisional tingkat sekolah dasar (SD). Kegiatan yang digelar Dharma Wanita Persatuan (DWP) Inspektorat Provinsi Jawa Timur bersama Persatuan Olahraga Tradisional Indonesia (PORTINA) Kota Surabaya ini berlangsung pada Minggu (1/11/2026).”
“Untuk pertama kalinya, perlombaan tersebut diikuti 16 sekolah dasar. Para peserta berkompetisi dalam dua jenis olahraga tradisional, yakni lari balok dan hadang.
Ajang ini lahir dari keprihatinan para guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) yang menilai olahraga tradisional telah menjadi bagian dari pembelajaran di sekolah, tetapi belum banyak mendapat ruang melalui kompetisi yang terorganisasi.
Ketua DWP Inspektorat Provinsi Jawa Timur, Iis Hendro Gunawan, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan menjadi agenda rutin yang dapat menjangkau lebih banyak sekolah. Ke depan, jenis olahraga yang dipertandingkan juga direncanakan semakin beragam sesuai cabang yang telah terverifikasi PORTINA.

Iis mengungkapkan, gagasan itu muncul setelah dirinya mengikuti pelatihan pelatih dan penggiat olahraga yang diikuti para guru olahraga.
“Kemarin saya sempat ikut pelatihan pelatih penggiat olahraga, dan pesertanya itu semua guru olahraga.”
“Mereka sempat keluh kesah karena olahraga tradisional masuk dalam satu pembelajaran di sekolah, tapi kok kita tidak pernah mengadakan event biar anak-anaknya ini bisa bertanding dan turnamen,” ujar Iis seusai kegiatan.
Menurutnya, perlombaan semacam ini penting untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan kemampuan, mengenal permainan tradisional, sekaligus merasakan pengalaman berkompetisi secara sehat.
Ketua PORTINA Kota Surabaya, Deice Harunwulan, juga menyampaikan rencana penyelenggaraan festival olahraga tradisional dan olahraga masyarakat dengan cakupan yang lebih luas. Kegiatan tersebut direncanakan berlangsung pada Januari atau Februari 2027 dengan melibatkan berbagai pihak dan komunitas penggiat olahraga.
Festival itu nantinya tidak hanya menghadirkan olahraga tradisional, tetapi juga berpotensi mencakup senam, bela diri, dan berbagai bentuk olahraga masyarakat.”
“Deice menegaskan, penghargaan dalam kompetisi olahraga pelajar tidak semata-mata diukur dari hadiah uang. Sertifikat keikutsertaan maupun prestasi justru menjadi salah satu hal yang diharapkan peserta karena dapat mendukung rekam jejak mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
“Nanti kami rencana mengadakan juga dengan berbagai pihak dan penggiat yang lain, maksudnya tidak hanya dari PORTINA. Kami ingin mengadakan festival olahraga tradisional dan masyarakat,” kata Deice.
Ia menambahkan, “Esensinya bukan uang sebenarnya, tapi mereka lebih berharap sertifikat, yang bisa dipakai untuk masuk ke jenjang berikutnya.”
Penyelenggaraan lomba ini merupakan hasil kerja sama DWP Inspektorat Provinsi Jawa Timur dengan sejumlah pihak terkait, termasuk Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) serta Inspektorat Provinsi Jawa Timur”.
“Dukungan juga disampaikan Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Kota Surabaya, Kak Iful. Ia mengapresiasi kegiatan tersebut karena dinilai memiliki manfaat lebih luas daripada sekadar perlombaan.
Menurut Kak Iful, olahraga tradisional dapat menjadi sarana memperkenalkan kembali warisan budaya Indonesia kepada generasi muda. Aktivitas ini juga membuka ruang bagi anak-anak untuk berinteraksi secara langsung, membangun kebersamaan, melatih kepercayaan diri, serta belajar menghargai lawan dan menjunjung sportivitas.

Di tengah meningkatnya penggunaan gawai pada anak, kegiatan olahraga yang melibatkan aktivitas fisik dan interaksi sosial dinilai dapat menjadi alternatif positif. Anak-anak diajak menikmati permainan bersama teman sebaya, sehingga waktu luang tidak hanya dihabiskan di depan layar.”
“Kak Iful berharap kegiatan serupa terus dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak sekolah, komunitas, dan keluarga. Dengan demikian, pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan upaya mendukung tumbuh kembang anak.
Peringatan Hari Pahlawan, menurutnya, tidak harus dimaknai melalui seremoni semata. Kegiatan yang membangun kebersamaan, menumbuhkan kegembiraan, dan memperkuat persatuan juga menjadi bagian penting dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi penerus.
Melalui lomba olahraga tradisional ini, penyelenggara berharap semakin banyak anak mengenal permainan warisan leluhur, mengembangkan kemampuan diri, serta tumbuh menjadi generasi emas Indonesia yang sehat, percaya diri, dan mampu berkompetisi secara sportif.
“(Triwono)”
