DESTRY DAMAYANTI RESMI JABAT GUBERNUR BANK INDONESIA GANTIKAN PERRY WARJIYO

TNIPOLRINEWS.COM –
Jakarta – Guncangan terjadi di Bank Indonesia. Gubernur Perry Warjiyo resmi mengajukan surat pengunduran diri. Konfirmasi itu disampaikan langsung oleh Mensesneg Prasetyo Hadi.
Merespons kekosongan itu, DPR RI dalam Rapat Paripurna akhirnya mengesahkan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia yang baru. Keputusan ini memberi kepastian di tengah pasar yang sempat was-was.
Sosok Destry bukan nama baru. Ia adalah orang dalam BI yang sudah malang melintang. Pemahamannya soal kebijakan moneter dan tantangan ekonomi nasional sudah teruji. Bagi pelaku pasar, penunjukannya memberi rasa aman karena karakter dan kapasitasnya sudah dikenal.
Momentum ini penting. Ekonomi global saat ini penuh ketidakpastian. Pasar butuh sinyal jelas dari bank sentral. Jika transisi pimpinan dilakukan tanpa arah, efeknya bisa langsung: rupiah melemah, arus modal keluar, dan inflasi sulit dikendalikan.
Destry hadir membawa dua hal: kesinambungan dan kemampuan beradaptasi. Pengalamannya di dunia perbankan, akademisi, dan internal BI menjadi modal besar. Ia juga pernah menghadapi ujian berat saat pandemi Covid-19, di mana BI dituntut gesit menjaga stabilitas sekaligus menopang pemulihan.
Para ekonom menilai Destry sebagai figur yang kompeten dan independen. Statusnya sebagai pejabat internal BI menambah kredibilitas. Ia paham bagaimana merumuskan kebijakan, membangun komunikasi, dan menjaga kepercayaan publik terhadap bank sentral.
Tapi tantangannya besar. Sebagai perempuan pertama yang menduduki kursi Gubernur BI, sorotan akan tertuju padanya. Pemerintah tentu berharap sinergi kebijakan moneter dan fiskal makin kuat. Namun sinergi itu harus tetap berada di koridor independensi BI.
Independensi bukan berarti berseberangan dengan pemerintah. Independensi adalah keberanian mengambil keputusan berdasarkan data dan mandat UU, meski kadang tidak sejalan dengan kepentingan jangka pendek.
Tugas Destry ke depan berat: menjaga stabilitas harga dan rupiah, sambil tetap mendukung pertumbuhan. Ia harus lincah merespons dinamika global, tanpa membuat kebijakan moneter kehilangan kredibilitas.
Pengesahan DPR adalah legitimasi politik. Selanjutnya, legitimasi itu harus diubah jadi kepercayaan pasar dan publik. Caranya lewat kebijakan yang konsisten, terukur, transparan, dan akuntabel.
Mandat sudah di tangan Destry. Ukuran keberhasilannya bukan pada seberapa ia memuaskan pemerintah atau pasar. Tapi seberapa kokoh ia menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan, sembari mengawal ekonomi Indonesia tumbuh sehat.
Di tengah ketidakpastian dunia, Indonesia butuh bank sentral yang independen, tidak terisolasi, fleksibel tapi berprinsip. Dan itu ada di pundak Destry sekarang.
penulis :
Sjafruddin Husain
_Pemerhati: Sejarah, Politik, Hukum & Ekonomi_
( S.R 01 )
