Drainase Diduga Ditutup Sepihak oleh Oknum Berinisial H.TRE, Ratusan Rumah Warga Terendam Saat Hujan Deras

TNIPOLRINEWS.COM –
Tanah Bumbu – Penutupan drainase utama di kawasan Jalan Kerateng dan Jalan Insgub, Kecamatan Simpang Empat, diduga menjadi penyebab utama banjir yang terus menghantui ratusan rumah warga setiap kali hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Warga menilai tindakan penutupan saluran air yang diduga dilakukan secara sepihak oleh seorang oknum berinisial H.TRE telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. (23/5/2025)
Banjir yang sebelumnya jarang terjadi kini berubah menjadi ancaman rutin bagi warga RT 11, RT 13 Jalan Insgub, serta kawasan Jalan Pesantren. Air meluap hingga masuk ke rumah-rumah warga karena aliran drainase tidak lagi mampu mengalirkan air menuju Sungai Batulicin sebagai jalur pembuangan utama.
Menurut warga, drainase dengan lebar sekitar dua setengah meter tersebut merupakan saluran vital yang dibangun Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu menggunakan anggaran daerah. Namun kini, saluran tersebut disebut telah tertutup timbunan tanah hingga rata, sehingga aliran air terputus total.
Salah seorang warga, Hairuddin, mengungkapkan kekecewaannya atas kondisi tersebut. Ia meminta pemerintah daerah segera turun tangan sebelum dampak banjir semakin meluas dan merugikan masyarakat.
“Kami berharap pemerintah segera membuka kembali saluran air itu agar banjir tidak terus terjadi. Drainase ini saluran utama menuju Sungai Batulicin. Kalau memang ada persoalan lahan, seharusnya dibicarakan dengan pemerintah atau kelurahan, bukan langsung ditutup begitu saja,” ujarnya.
Warga menyebut persoalan ini sebenarnya telah berlangsung sejak sekitar tahun 2023. Sejak saat itu, setiap hujan deras turun, air dengan cepat meluap dan menggenangi permukiman warga.
Warga lainnya, Buni, mengatakan masyarakat telah melaporkan persoalan tersebut kepada pihak Kelurahan Kampung Baru. Bahkan, lurah setempat disebut sudah turun langsung ke lokasi untuk meninjau kondisi drainase yang kini dipenuhi sampah dan tumbuhan liar, termasuk pohon rambai.
Meski demikian, warga menilai hingga saat ini belum ada langkah konkret untuk mengembalikan fungsi saluran air tersebut. Mereka khawatir kondisi itu akan terus memperparah banjir dan berdampak pada kerusakan rumah maupun kesehatan masyarakat.
“Drainase itu jalur utama pembuangan air. Sekarang air tidak punya jalan menuju sungai karena sudah ditutup urukan tanah. Akibatnya, rumah warga yang jadi korban,” kata seorang warga.
Warga juga mempertanyakan tindakan penutupan drainase yang dinilai dilakukan tanpa musyawarah maupun koordinasi dengan pemerintah daerah. Mereka berharap pemerintah tidak hanya melakukan peninjauan lapangan, tetapi juga mengambil tindakan tegas demi melindungi kepentingan masyarakat luas.
Penutupan drainase dinilai bukan hanya memicu banjir, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak lingkungan dan sosial yang lebih besar. Genangan air yang terus terjadi dapat merusak infrastruktur jalan, mencemari lingkungan, hingga meningkatkan risiko penyakit seperti demam berdarah dan infeksi kulit.
Aktivitas masyarakat pun ikut terganggu. Anak-anak kesulitan berangkat sekolah saat hujan deras, sementara sejumlah warga mengaku perabot rumah tangga mereka rusak akibat air yang terus masuk ke dalam rumah.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat terkait pengawasan tata ruang dan perlindungan fasilitas umum. Pasalnya, drainase yang dibangun menggunakan anggaran pemerintah sejatinya merupakan fasilitas publik yang diperuntukkan bagi kepentingan bersama.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu bersama instansi terkait segera mengambil langkah cepat, mulai dari normalisasi saluran air, mediasi dengan pihak terkait, hingga penegakan aturan apabila ditemukan pelanggaran yang merugikan masyarakat.
Bagi warga di kawasan terdampak, harapan mereka sederhana: saluran air kembali dibuka agar banjir tidak lagi menjadi mimpi buruk setiap musim hujan tiba.
( Nasoba & Tim )
