September 2, 2026

Seminar Parenting AD Dhuha Soroti Kolaborasi Orang Tua dan Sekolah di Era Digital

0

Surabaya, Tnipolrinews.com |

Perkembangan teknologi digital membuat pola pengasuhan anak menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam Seminar Parenting perdana AD Dhuha bertema “Kolaborasi Orangtua dan Sekolah dalam Pola Pengasuhan Anak di Era Digital.
Seminar ini menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dan sekolah secara bersama dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Kegiatan diikuti para wali murid, guru, serta karyawan.

Hadir pula Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Febrina Kusumawati, Kabid PAUD dan PNF Dinas Pendidikan Surabaya Rosita Dwi Yuliandari, serta Pengawas RA Dzurrotul Fikriyah. Ketiganya mengikuti jalannya kegiatan sejak awal hingga akhir.

Kepala Sekolah AD Dhuha Aditya Rizki Himawan mengatakan pendidikan anak tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada sekolah. Peran keluarga tetap menjadi bagian penting dalam membentuk karakter dan kebiasaan anak.

Pandangan tersebut sejalan dengan penekanan Febrina mengenai posisi keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama bagi anak.

“Keluarga adalah madrasah pertama bagi anak. Apa yang kita tanamkan di rumah akan berpengaruh besar terhadap sikap, karakter, dan akhlak mereka di sekolah maupun di masyarakat, jelas Febrina, sapaan akrabnya bu kadis.” jelasnya.

Febrina juga menekankan perlunya kesinambungan pola pendidikan antara lingkungan keluarga dan sekolah. Menurutnya, kedua lingkungan tersebut perlu saling mendukung agar perkembangan anak berjalan secara positif.

“Ia juga menyampaikan bahwa apa yang kita lakukan di rumah dan di sekolah harus saling mendukung sehingga anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berakhlak mulia, dan berjiwa Islami sesuai persiapan generasi emas Indonesia.” tambahnya.

Persoalan pengasuhan di tengah perkembangan teknologi kemudian menjadi pembahasan dalam sesi seminar yang menghadirkan Syaiful Bachri sebagai salah satu narasumber.

Syaiful menilai pola pengasuhan akan lebih efektif ketika orang tua tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga keterampilan dan dukungan yang dilakukan secara berkelanjutan.

“Syaiful Bachri., menuturkan bahwa kegiatan seperti ini akan lebih efektif apabila melibatkan pengetahuan, keterampilan, serta dukungan yang berkelanjutan.” tuturnya.

Ia mengajak orang tua untuk terus mengembangkan diri sekaligus memahami kebutuhan anak pada setiap tahapan perkembangannya. Bagi Syaiful, proses menjadi orang tua juga membutuhkan pembelajaran yang terus berlangsung.

“Mari kita ambil langkah konkret untuk menerapkan teknik parenting yang efektif, serta terus belajar meningkatkan keterampilan sebagai orang tua. Anak-anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, melainkan orang tua yang hadir sepenuh jiwa,” ujar kak Iful.

Dalam paparannya, Syaiful menyebut lingkungan, budaya, dan kepribadian sebagai sejumlah faktor yang turut memengaruhi tumbuh kembang anak. Karena itu, pola pendidikan anak perlu mempertimbangkan perubahan kondisi sosial dan perkembangan teknologi.

Ia juga menyoroti pentingnya pendampingan sejak usia dini. Perbedaan zaman membuat cara mendidik anak tidak dapat sepenuhnya disamakan dengan pola pengasuhan yang dialami orang tua ketika masih kecil.

“Syaiful dalam paparannya menyoroti tentang pentingya pendampingan anak sejak usia dini. Didiklah anakmu sesuai zamannya, karena kelak mereka tumbuh dan berkembang sesuai zamannya. Kalimat yang diambil dari Ali Bin Abu Tholib RA, menjadi paparan bagaimana kita mendidik anak tidak sama dengan jaman orangtuanya diwaktu kecil, apalagi gemburan digital yang tanpa batas” tegasnya.

“Menghadapi kondisi tersebut, orang tua didorong membangun kedekatan emosional dengan anak melalui waktu berkualitas dan keterlibatan dalam aktivitas mereka. Dukungan dan apresiasi juga dinilai penting untuk membantu anak berkembang secara positif.

“Oleh karena itu, mari kita bangun hubungan yang kuat melalui koneksi emosional dengan menghabiskan waktu berkualitas bersama anak, menunjukkan kasih sayang, memberikan dukungan dan apresiasi atas setiap pencapaian maupun usahanya, serta terlibat aktif dalam kegiatan dan minat anak, tegasnya.” ungkapnya.”
Pada akhirnya, seminar tersebut menempatkan kolaborasi keluarga dan sekolah sebagai fondasi penting dalam mempersiapkan anak menghadapi tantangan kehidupan. Pendidikan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi berlanjut melalui pola pengasuhan dan keteladanan di lingkungan keluarga.

“Sebagai kesimpulan, mari kita lebih efektif dalam melibatkan pengetahuan, keterampilan, dan dukungan yang berkelanjutan kepada anak-anak kita, Mendidik anak tidak ada pembelajaran disekolah, maka dengan kolaborasi akan membuat anak kita bisa mandiri, berakhlak, bertanggungjawab dan menghadapi tantangan hidup yang mereka hadapi kelak pungkas Syaiful sambil berpamitan menutup Seminar Parenting.” pungkasnya.
(Triwono).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *