Juni 23, 2026

CAGAR BUDAYA HILANG, PARIWISATA MATI: MALL DAN HOTEL BUKAN DAYA TARIK UTAMA GORONTALO

0

GORONTALO, Tnipolrinews.com |

23 Juni 2026 Mari kita sadari satu fakta paling nyata dan sangat mendasar tentang pariwisata: Wisatawan mancanegara maupun nusantara tidak menempuh perjalanan jauh ke Gorontalo hanya untuk melihat mal megah, gedung tinggi, atau hotel mewah. Hal-hal modern semacam itu bisa mereka temukan di Jakarta, Surabaya, atau kota besar manapun di dunia dengan skala yang jauh lebih besar dan lengkap. Jika yang dicari hanya bangunan fisik dan kemewahan, mereka tidak perlu datang jauh-jauh ke Bumi Serambi Madinah ini, ” ucap Abdul Wahab G Kuna.

Menurutnya, apa sebenarnya yang mereka cari? MEREKA DATANG UNTUK MENCARI APA YANG TIDAK ADA DI TEMPAT LAIN, ” tandasnya.

Mereka datang untuk menyaksikan keunikan, keaslian, dan jejak sejarah yang hanya dimiliki Gorontalo. Mereka antusias berkunjung ke Benteng Otanaha, menjelajahi bangunan-bangunan bersejarah, menyusuri situs perjuangan, dan memotret arsitektur masa lalu yang menceritakan kisah panjang peradaban tanah ini. Bagi dunia internasional, nilai itulah yang paling mahal, daya tarik yang tak tergantikan, dan identitas mutlak yang membuat Gorontalo berbeda dari daerah lain.

Di sinilah bahaya besar sedang mengancam masa depan ekonomi kita. Ketika kita membiarkan bangunan cagar budaya rusak terbengkalai, atau lebih parah lagi, menghancurkannya demi pembangunan baru, kita sedang mematikan sumber kehidupan pariwisata kita sendiri. Begitu sejarah hilang, begitu jejak masa lalu lenyap, maka daya tarik utama Gorontalo pun ikut raib bersamanya.

Rantai dampaknya sangat jelas dan menyakitkan: Cagar Budaya Hilang = Daya Tarik Wisata Hilang = Wisatawan Tidak Datang. Lalu, siapa yang akan mengisi kamar-kamar hotel yang sudah dibangun? Siapa yang akan membeli produk kuliner dan kerajinan UMKM? Siapa yang akan menyewa jasa ojek wisata, pemandu, dan pelaku usaha kecil lainnya? Ribuan nasib rakyat kecil yang menggantungkan hidup pada kunjungan tamu akan terancam sepi, pendapatan hilang, dan ekonomi mati suri.

Kita tidak boleh salah strategi. Membangun fasilitas modern memang perlu sebagai penunjang, tetapi MALL DAN HOTEL BUKANLAH DAYA TARIK UTAMA. Daerah lain bisa menyalip kita dalam hal kemegahan fisik kapan saja. Tapi tidak ada satu daerah pun yang bisa meniru atau membuat ulang sejarah dan warisan budaya Gorontalo. Itu adalah hak paten mutlak kita.

Jangan sampai kelak kita bangga punya banyak bangunan baru yang berkilauan, tapi kota ini sepi pengunjung. Jangan sampai kita gila membangun fisik hingga lupa bahwa SEJARAH ADALAH MATA UANG TERBESAR DAN TERABADI PARIWISATA KITA. Menjaga cagar budaya bukan sekadar urusan pelestarian, melainkan urusan menyelamatkan masa depan ekonomi ribuan keluarga Gorontalo.

Ingatlah baik-baik: Wisatawan datang untuk melihat apa yang membuat kita BERBEDA, bukan apa yang membuat kita SAMA dengan kota lain. Jika sejarah hilang, pariwisata Gorontalo mati, ” pungkasnya.
( S.10 )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *