Brendung Suara Rahim Bumi, Pementasan Teater Brayah Menakjubkan Meski Durasi Pendek

Pemalang, TNIPOLRINEWS.COM –
Adat leluhur Desa Sarwodadi, pada waktu berdoa kepada Tuhan untuk meminta hujan dengan melakukan Upacara Brendung beserta musik tradisional, dipentaskan oleh Teater Brayah dengan menarik. Pementasan Brendung Suara Rahim Bumi digelar di Pendopo Kecamatan Comal Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah pada Sabtu Malam, 13-6-2026.
Pendopo Kecamatan Comal pada Malam Minggu, mulai ramai oleh para peminat seni pertunjukan. Karena baru pertama akan menyaksikan pertunjukan bertema brendung, yang selama ini hanya didengar dari mulut ke mulut.
Pantauan jurnalis tnipolrinews.com bahwa kehadiran Camat Comal Muchammad Maksum, S.IP., M.M dengan pakaian adat jawa, menjadi penyemangat para pengunjung untuk siap di pendopo dengan duduk menikmati kopi dan kacang rebus yang telah disediakan oleh penyelenggara.
Panggung di atas pendopo yang menghadap ke Timur ke arah jalan raya, dimana jalan tersebut tiap malam diramaikan oleh pemuda pemudi yang menikmati nasi megono dan jajanan khas desa. Tambah ramai oleh ratusan pengunjung di lantai pendopo sampai pada halaman Pendopo Kecamatan Comal.

Sebelum Pementasan Teater Brayah yang baru berdiri pada 31 Maret 2026 mulai. Memperkenalkan Musik Bombat musik tradisional khas Pemalang yang melantumkan kidung jawa ‘Tolak Balak.”
Naskah asli Brendung Suara Rahim Bumi ditulis Gelegar Prakosa dan menjadi sutradaranya. Dia merupakan Wakil Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Daerah (DKD) Pemalang sejak beberapa tahun silam. Sedangkan Ketua Komite Sastra, Kustajianto.
Detik-detik awal pementasan, terdengar suara permohonan anak dengan kalimat:”suara rahim bumi….” tanpa bentuk.
Hingga terjadi perdebatan dua anak, yaitu Ambar (diperankan Sabila Bahana Jagad) berdebat dengan Rahma (diperankan Maitsa Rahma Habibatuk Mar’ati) sebagai anak kandung Simbong (diperankan Denok Harti).

Memperdebafkan kemarau panjang yang tak turun hujan hingga petani bingung. Petani mengambil solusi berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan sarana menggelar pementasan Brendung dan musik tradisional dalam rangka meminta hujan.
Muncul Simbok dengan Brendung. Brendung adalah tempurung kelapa yang dipoles bedak seperti wanita berkalung bunga serta asap kemenyan di sekitarnya.
Simbok menjelaskan bahwa dalam meminta hujan tetap kepada Allah SWT dan Brendung hanya simbul Dewi Sri yang sekadar sarana upacara meminta hujan. Akhirnya benar-benar turun hujan.
Menurut Warga Desa Sarwodadi Kecamatan Comal Kabupaten Pemalang yang sudah renta usianya, sesuai penelusuran jurnalis tnipolrinews.com pada hari-hari sebelumnya. Setelah dilakukan Upacara Brendung tak lama kemudian turun hujan, demikian penjelasan mereka.

Upacara seperti ini dilakukan Leluhur Sarwodadi setiap musim kemarau panjang. Saksi hidup leluhur pada waktu Upacara Brendung sudah meninggal duania tetapi menyampaikan fakta pada turunan-turunanya.
Menurur Denok Harti dalam diskusi selesai pertunjukan, menyampaikan bahwa Brendung pada hari ini merupaakn warisan budaya leluhur yang harus dipertahankan dan jangan dibenturkan dengan ajaran agama mana pun.
“Adat Desa merupakan Wajah Leuhur desa, dan dalam tiap pementasan bertujuan mencegah kesalahpahaman atas keberadaan Brendung,” paparnya.
(Kustajianto)
