Juli 18, 2026

​Program “Speling” Sentuh Desa Tundagan: Langkah Taktis RS Muhammadiyah Mardhatillah dan Puskesmas Cikadu Dekatkan Layanan Spesialistik ke Pelosok

0

TNIPOLRINEWS.com | Pemalang

Dalam upaya mengikis kesenjangan geografis terhadap akses pelayanan kesehatan tingkat lanjut, Rumah Sakit (RS) Muhammadiyah Mardhatillah bersinergi dengan Puskesmas Cikadu menggelar program Speling (Spesialis Keliling) di Desa Tundagan, Kecamatan Watukumpul, pada Rabu (15/7/2026).

Langkah kolaboratif ini hadir sebagai solusi konkret dalam mendekatkan dokter spesialis langsung ke tengah-tengah masyarakat yang selama ini memiliki keterbatasan akses transportasi dan waktu menuju pusat layanan perkotaan.

Sinergi strategis antara tim medis RS Muhammadiyah Mardhatillah dan Puskesmas Cikadu, yang menghadirkan tiga pilar pelayanan utama: Spesialis Penyakit Dalam, Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgyn), serta Spesialis Anak, dengan sasaran seluruh warga Desa Tundagan.
​Pelaksanaan program inovatif “Speling” (Spesialis Keliling) yang mengintegrasikan layanan kuratif (pengobatan) tingkat lanjut dengan edukasi preventif di level komunitas.
​Kegiatan berlangsung pada hari Rabu, 15 Juli 2026, bertempat di Desa Tundagan, Kecamatan Watukumpul—sebuah wilayah yang secara geografis memerlukan perhatian khusus terkait jangkauan fasilitas kesehatan referal.

​Tingginya kebutuhan masyarakat desa akan deteksi dini penyakit degeneratif, pemantauan kesehatan ibu hamil (antenatal care), serta optimalisasi tumbuh kembang anak, yang sering kali terkendala jarak tempuh yang jauh menuju rumah sakit pusat.
​Kegiatan dijalankan melalui sistem klaster pelayanan interdisipliner. Warga tidak hanya mendapatkan pemeriksaan fisik secara komprehensif dari dokter spesialis secara gratis/terjangkau, tetapi juga menerima konseling obat dan edukasi pola hidup sehat guna memutus rantai morbiditas (angka kesakitan) di tingkat hulu.

Berkenaan dengan kegiatan tersebut, ​Direktur Utama RS Muhammadiyah Mardhatillah, dr. Faza Khilwan Amna, MMR, Sp.Rad, menyatakan bahwa program Speling bukan sekadar agenda seremonial bakti sosial, melainkan sebuah manifestasi dari pemenuhan hak ekuitas kesehatan (health equity) bagi masyarakat pedesaan.

​”Secara akademis dan manajerial rumah sakit, program Speling dirancang untuk memotong barrier atau hambatan logistik yang selama ini dihadapi oleh masyarakat di wilayah perifer seperti Watukumpul. Kami membawa kompetensi klinis dari tiga spesialisasi fundamental—Penyakit Dalam, Obgyn, dan Anak—langsung ke lini terkecil masyarakat. Tujuannya adalah melakukan intervensi dini. Melalui kolaborasi dengan Puskesmas Cikadu, kita sedang membangun sistem deteksi yang mampu mencegah komplikasi penyakit kronis pada orang dewasa, menurunkan risiko mortalitas ibu, serta menekan angka stunting pada anak sejak dari desa,” ujar dr. Faza Khilwan Amna.

​Lebih lanjut, dirinya menambahkan, “Edukasi yang kami berikan di lapangan diharapkan mampu meningkatkan literasi kesehatan masyarakat secara mandiri. Ketika masyarakat paham cara menjaga kesehatan dan tahu kapan harus mencari pertolongan medis, maka derajat kesehatan komunal secara otomatis akan meningkat.”

​Kehadiran tiga dokter spesialis dalam program ini membawa dampak edukatif yang spesifik bagi warga Desa Tundagan:
-​Spesialis Penyakit Dalam: Memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya mengontrol regulasi gula darah dan tekanan darah guna mencegah penyakit kardiovaskular mumpuni.
-​Spesialis Obgyn: Mengedukasi para ibu hamil mengenai pentingnya pemeriksaan kehamilan berkala demi mencegah risiko preeklampsia dan perdarahan pasca-salin.
-​Spesialis Anak: Menjadi garda terdepan dalam memantau kurva pertumbuhan anak, memberikan edukasi gizi seimbang, serta memastikan pemenuhan imunisasi dasar lengkap.

“​Sinergi antara rumah sakit dan puskesmas ini diharapkan dapat menjadi role model (percontohan) manajemen kesehatan wilayah yang integratif, di mana fasilitas kesehatan sekunder aktif menjemput bola untuk memperkuat fasilitas kesehatan primer demi mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan berdaya”, pungkas dr. Faza.

Jurnalis : Surino

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *